TUGAS PKKMB PORTOFOLIO RESUME MATERI H-2
MATERI 1
Ainun Najib Ahli IT Indonesia
Tema:
Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri
Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri mengalami transformasi besar dalam cara mereka berfungsi, mengajar, dan berinteraksi dengan mahasiswa serta masyarakat.
Berikut adalah beberapa aspek utama dari perubahan tersebut:
Pembelajaran Digital dan Online, Penggunaan platform e-learning, MOOC (Massive Open Online Courses), dan webinar memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas dan fleksibel. Mahasiswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja, meningkatkan inklusivitas dan efisiensi.
Kurikulum Berbasis Teknologi yaitu adalah Integrasi teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things (IoT) ke dalam kurikulum. Infrastruktur Digital dan Infrastruktur Kampus Peningkatan infrastruktur TI, seperti jaringan broadband cepat, laboratorium virtual, dan perangkat lunak kolaboratif.
Penggunaan Learning Analytics untuk memonitor kemajuan mahasiswa dan meningkatkan proses pembelajaran. Data-driven decision making dalam pengelolaan institusi.
Peran Perguruan Tinggi sebagai Inovator dan Penggerak Revolusi Industri adalah Perguruan tinggi yang tidak hanya mengajar tetapi juga menjadi pusat inovasi dan penelitian terapan. Tetapi juga Pengembangan startup dan inkubator bisnis berbasis teknologi. Secara keseluruhan, perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri harus mampu beradaptasi dengan cepat agar tetap relevan dan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten di era yang penuh perubahan ini.
MATERI 2
Prof. Dr. Haryono Umar, SE., Ak., M.Sc., CA
Tema :
Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi
Korupsi adalah kanker yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia merampas hak-hak rakyat, menghambat pembangunan, dan merusak kepercayaan publik. Melawan korupsi bukan hanya tugas aparat penegak hukum atau pemerintah, tapi tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia. Generasi muda adalah kunci dan harapan terbesar dalam membangun Indonesia yang bebas korupsi.
Mengapa Generasi Muda Sangat Penting?
Generasi muda akan menjadi pemimpin, profesional, dan warga negara yang menentukan arah Indonesia di masa depan. Nilai integritas yang ditanamkan sejak dini akan menjadi fondasi bagi kepemimpinan yang bersih.
Selain itu Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan penguasaan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem transparan, mengawasi penyelenggara negara, dan mengembangkan solusi anti korupsi yang inovatif.
Pola Pikir Kritis: Generasi muda cenderung lebih kritis, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki idealisme yang tinggi. Ini adalah modal penting untuk menantang status quo dan budaya korupsi yang mengakar.
Agen Perubahan (Agent of Change): Sebagai generasi yang akan hidup lebih lama, generasi muda memiliki kepentingan langsung untuk mewarisi Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera, bebas dari praktik korupsi.
Bagaimana Generasi Muda Menjadi Garda Terdepan Anti Korupsi?
Mulai dari Diri Sendiri, Tanamkan Nilai Integritas, Tolak Praktik Kecil yang Mengarah ke Korupsi, tidak memberi atau terima hadiah yang bisa mempengaruhi keputusan (gratifikasi) dan Hidup Sederhana dan Bertanggung Jawab: Kelola keuangan pribadi dengan bijak, hindari gaya hidup konsumtif yang mendorong mencari jalan pintas. Sebuah tujuan yang bisa diraih jika generasi mudanya memiliki integritas baja dan tekad baja. Kalian adalah harapan, kalian adalah perubahnya!
Tantangan yang Dihadapi:
Budaya "Kenal Sama" dan "Cepat Selesai": Budaya yang mengutamakan koneksi dan jalan pintas masih kuat.
Ketidakpastian Masa Depan: Tekkan ekonomi dan persaingan kerja bisa mendorong beberapa pemuda mencari jalan mudah.
Pengaruh Lingkungan: Lingkungan (keluarga, teman, institusi) yang tidak mendukung integritas bisa menjadi penghalang.
Rasa Takut Melapor: Ancaman atau ketakutan akan dampak negatif jika melaporkan tindak pidana korupsi.
Kesimpulan:
Generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi agen perubahan sejati dalam memerangi korupsi. Integritas bukan hanya pilihan, tapi keharusan. Dengan membangun dan menjunjung tinggi integritas sejak dini, generasi muda dapat membentengi diri dari godaan korupsi dan menjadi garda terdepan dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan.
Mari generasi muda Indonesia bersatu:
Tanamkan Integritas dalam Jiwa.
Tingkatkan Kesadaran Bahaya Korupsi.
Manfaatkan Teknologi untuk Perubahan.
Berani Bersuara dan Bertindak.
Jadilah Contoh dan Inspirasi.
Indonesia bebas korupsi bukan lagi mimpi, tapi sebuah tujuan yang bisa diraih jika generasi mudanya memiliki integritas baja dan tekad baja. Kalian adalah harapan, kalian adalah perubahnya!
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya." (Ir. Soekarno) - Dan pahlawan anti korupsi masa kini dan masa depan adalah generasi muda yang berintegritas!
MATERI 3
KH Ma'ruf Khozin - PWNU Jatim
Tema :
Mencetak Mahasiswa Unusa sebagai generasi
Aswaja An-Nahdliyah
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah.
Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:
1. Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?
Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.
An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).
2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah
a. Penjaga Tradisi Keilmuan
Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.
Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.
b. Agen Moderasi Beragama
Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian.
Contoh : Menolak radikalisme dan ekstremisme.
c. Pejuang Kemaslahatan Sosial
Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak, Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan). Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).
Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.
d. Inovator dalam Tradisi
Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern, Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam. Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja. Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.
3. Implementasi di Kampus UNUSA
Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis.
Kegiatan Kemahasiswaan:
1.Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.
2.Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.
3.Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.
Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.
4. Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah
Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.
Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.
Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.
5. Kesimpulan: Mahasiswa UNUSA sebagai "Generasi Harapan"
Mahasiswa UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk: Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi, Mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat, Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, beradab, dan berkepribadian Islam. Seperti dikatakan KH. Hasyim Asy'ari: "NU itu tugasnya nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja." Mahasiswa UNusa adalah garda terdepan dalam misi ini.
Saya Diana Fatikasari dari Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.
Media sosial UNUSA
- Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb
- Instagram : https://www.instagram.com/unusa_official/
- Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official
- Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en
- Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official
